Uang: Benarkah ia Segalaganya dan Segagagalanya Butuh Uang?

Selasa, 9 Februari 2010 05:50:48 - oleh : aripnur

Membelanjakan Uang dengan Bijak

Oleh: Bambang Achdiyat

Ada Pribahasa “Uang adalah segalanya” atau “uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang”

Mari kita bahas tentang apa yang sering membuat masalah hampir bagi setiap orang. Satu kebutuhan mendasar bagi manusia adalah kepuasan, ada puas terhadap keinginan ada kepuasan terhadap kebutuhan.

Pertama tentu memenuhi terhadap kebutuhan, lalu kemudian terhadap keinginan. Orang banyak berusaha keras, banting tulang, korbankan waktu malam dan siang jatah keluarga untuk mengumpulkan uang. Mereka berpikir kalau uang bisa memenuhi segala kebutuhan mereka, uang adalah segalanya, uanglah yang menentukan bahagia atau celakanya seseorang.

Benarkah begitu?

Saya bekerja, tapi salah jika orang bilang saya bekerja demi uang, mari kita lihat dari sudut pandang yang sekarang saya miliki, saya tidak mencari uang, saya hanya menjemput hak saya,itu bukan milik orang lain itu hak saya, itu rejeki saya hanya saya punya keahlian tertentu akibat saya pernah belajar dan mengusai hal itu, oleh karena itu saya terkena kewajiban misal mengajar, bekerja di satu institusi, menulis buku, menulis artikel di surat kabar, menjual makanan. Akibat saya menunaikan kewajiban saya, saya berhak atas hak saya.

Untuk apa hak itu, itu merupakan ketetapan Tuhan untuk saya begitupun Anda. Kita semua memiliki guratan masing-masing mengenai rejeki kita, tergantung seberapa sigap dan sadar terhadap rejeki kita. Tentu semua rejeki itu untuk memberikan kecukupan bagi hidup kita di bumi, sandang, pangan, dan papan.

Uang tidak akan pernah mencukupi kebutuhan kita, adakah diantara kita makan dengan uang, minum uang, tidur di atas tumpukan uang, dan mandi dengan uang? Saya pikir tidak ada satupun yang seperti itu diantara kita.

Siapapun dan sekaya apapun ia tetap saja makan dengan nasi, minum dengan air, tidur diatas kasur, mandi juga dengan sabun. Uang hakikatnya bukanlah alat pemuas kebutuhan ia hanyalah lembaran kertas yang didesain sebagai alat konverter saja. Ingat!, aktivitas kita untuk mememenuhi kebutuhan bukan mengumpulkan alat konverter.

Aneh sekali pekerjaan para tikus serakah itu, mereka punya vila di mana-mana, mobil banyak, titel yang mentereng menggandeng nama mereka, tapi hobi mereka tiap hari hanya melihat buku tabungan, mereka senang sekali melihat angka yang tiap hari semakin bertambah karena bunga tabungannya besar. Padahal mereka tidak memegang uang itu, uang itu malah disimpan oleh orang lain, vila malah dinikmati oleh si bibi dan si paman tukang kebun, mobil adakah yang sekali naik langsung 2 mobil? Ini tandanya bahwa uang bukan pemuas kebutuhan, ia seperti pupuk yang akan memperkuat akar serakah dalam diri yang tidak memiliki ilmu dan iman.

Ia akan memenjara setiap jiwa yang lemah. Biasa sajalah terhadap uang, tidak perlu berlebihan. Lalu ada pertanyaan, bagaimana kalau kita tidak punya banyak uang bagaimana bisa makan, minum, mencukupi kebutuhan anak dan istri, dll? Tolong jangan salah tangkap, saya tidak mengatakan tidak perlu mencari uang. Saya hanya bilang kita lakukan sesuatu sesuai keahlian kita apa pun itu, kalau Anda seorang akuntan, ya Anda melamar ke Departemen keuangan disana Anda bisa berkontribusi, jika Anda seorang peneliti, Anda melamar ke sebuah institusi penelitian.

Itu untuk melaksanakan kewajiban Anda, nanti Anda berhak atas hak Anda. Ingat tujuan kita “terpenuhinya kebutuhan” kebutauhan kita terpenuhi tidak harus selalu uangnya dari tangan kita, masalahnya kalau kita ingin rumah harus saja uang untuk membeli rumah dari dompet kita, begitupun seperti mobil, motor, kulkas, TV, Hp baru, Haji, baju baru, termasuk makan siang nanti.

Sehingga ketika tidak punya uang yang cukup ketika kita kalkulasikan dengan otak kita yang terbatas kita merasa gelisah, merasa terpenjara dalam dunia yang sempit, merasa sesak, sampai kalau uang sudah tidak bersisa satupun ditangan seakan-akan dunia akan runtuh. Itu salah besar, kita memenjara diri kita dengan jumlah uang. Teman, sehat itu rejeki, orang tua yang bijak itu rejeki, adik-adik yang penurut itu rejeki, pasangan yang pengertian itu rejeki, sahabat yang banyak itu rejeki. Iabadah yang khusuk adalah nilai mahal yang tidak bisa ditakar. Kita semua percaya dengan adanya Tuhan. Tapi lihat perkerjaan kita, kita mematok kemampuan Tuhan memberikan rejeki pada kita pada jenis pekerjaan kita, pada tingkat jabatan kita.

Bagaimana mungkin kita bisa merendahkan Tuhan seperti itu? Mssal, “bu setelah lulus SMP tahun ini anak ibu mau meneruskan sekolah kemana?”, “ya Jang, ibu mah orang miskin, ga punya uang buat nyekolahin, paling beres tahun ini anak ibu mah ikut sama bapaknya saja jadi kuli”. “Pa mau haji kapan?”, “ya Jang bapakmah gajinya ga menentu, rumah gubuk ga bagkalan mungkin bapak kesana, orang ke Ancol saja bapak belum pernah, apalagi ke mekah”. Lihat itu fakta atau mungkin tidak sadar kita juga memponis diri kita seperti itu. Terpenuhinya kebutuhan tidak harus selalu dari uang kita, banyak orang yang berpenghasilannya rendah mereka bisa berangkat haji.

Orang miskin dan tidak pernah menelesaikan sekolah SD ternyata bisa dikenal oleh dunia, siapa yang tidak mengenal pemilik Honda, Suichiro Honda. Lihat di beberapa Universitas, para professornya adalah orang kampung. Banyak orang yang bisa memiliki perusahaan besar bukan dengan tingkat pendidikan mereka, tapi karena kejujuran. Pokoknya jangan menganggap uang adalah segalanya sebab rejeki itu bisa datang dari mana saja dan tidak perlu harus selalu terpikir oleh kita.

Ada orang yang di jamin hidupnya oleh Tuhan, yaitu mereka yang bertakwa. Mereka yang menjadi hamba Tuhan, maka Tuhan tundukan dunia padanya. Mereka yang berpaling pada tuhan, maka tuhan jadikan dunia sebagai majikan baginya. Seperti budak dan tuan, mereka yang mengabdi pada tuannya maka seluruh kebutuhan hidupnya dijamin oleh tuannya selama ia mengabdi dengan baik melakukan yang tuannya suka dan tidak melakukan yang dilarang tuannya. Para budak yang berpaling dari tuannya, tentu tidak akan mendapat jaminan itu, mungkin ia akan diusir dari rumahnya dan dibiarkan saja sendirian diluar sana tanpa ada yang menjaga. Dunia itu seperti bayangan, kita kejar ia kan berlari meninggalkan kita dan ketika kita tinggalkan ia akan menghampiri kita.

Hiduplah sederhana dan memandang dunia itu biasa saja maka rasakan bahwa dunia itu begitu jinaknya pada kita. Mari bersama-sama belajar takwa dan Ihsan.

Wallohualam Bissawab.

E-Learning Kota Banjar

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Pendidikan" Lainnya